Mantan Presiden Sudan Akan diadili Setelah Kudeta

Keberadaan Omar al-Bashir, mantan presiden Sudan, yang dilaporkan ditahan sesudah dikudeta sampai sekarang ini masih belum diketahui. Menurut laporan yang ada, ia dan juga 2 orang terdekatnya bakal segera diadili atas tuduhan korupsi dan juga kematian belasan pengunjuk rasa  dalam gelombang demonstrasi sejak akhir tahun 2018.

Akan diadili dengan Dua Rekannya

Seperti yang dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (16/4), menurut sumber mantan-mantan pejabat Sudan yang bakal diadili selain Omar al-Bashir adalah mantan Menteri Dalam Negeri yaitu Abdelrahim Mohamed Husein dan juga Ketua Partai Kongres Nasional, Ahmed Haroun. Ketiga orang ini pasalnya juga menjadi buronan dari Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Mereka juga disebut-sebut sebagai orang-orang yang bertanggung jawab penuh atas kejahatan perang dalam konflik yang terjadi di Darfur.

Sekarang ini Angkatan Bersenjata Sudan mengambil alih pemerintahan Sudan dengan membentuk Dewan Militer. Mereka sendiri menyatakan bahwa akan berkuasa selama 2 tahun dan menggelar pemilihan umum guna membentuk pemerintahan peralihan.

Namun kontak senjata dilaporkan terjadi antara tantara Sudan dan pasukan yang loyal pada Bashir. Kudeta ini memang benra dianggap sebagai pengaruh dari gerakan Revolusi Semi Arab yang terjadi sejak tahun 2011. Negara tetangga mereka yaitu Mesir, telah lebih dulu melakukan hal itu. Namun sekarang malah melahirkan presiden dictator yang baru, tidak lain adalah Abdel Fattah Saeed Huseen al-Sisi.

Sudan pun menyatakan tetap akan terlibat di dalam pasukan koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi yang mana berperang di Yaman, dengan melawan kelompok Houthi. Angkatan bersenjata Sudan pasalnya melakukan kudeta pada kepemimpinan Presiden Bashir yang berkuasa sejak 11 April 1989.

Kudeta juga dilakukan setelah adanya gelombang unjuk rasa yang menuntut Bashir untuk mundur semain gencar sejak pekan yang lalu. Hal tersebut telah dilakukan sejak bulan Desember 2018.

Rakyat Sudan Tuntut Pemerintahan Sipil

Minggu lalu diberitakan bahwa perayaan kejatuhan Presiden Omar al-Bashir ini berubah menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri. Penyebabnya tidak lain adalah angkatan bersenjata yang memutuskan untuk mengambil alih kekuasaan setelah kudeta dengan cara membentu Dewan Militer dan tak memberikan kesempatan kalangan-kalangan sipil untuk membentuk pemerintahan yang baru.

Masih dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu (13/4) minggu lalu, kelompok pegiat Asosiasi Profesional Sudan atau SPA menyatakan menolak militer mengambil alih pemerintahan. Mereka juga mendesak seluruh rakyat untuk tetap berunjuk rasa dan juga mendesak angkatan bersenjata untuk menyerahkan kekuasaan pada kelompok sipil.

“Rezim ini juga menggunakan kudeta untuk kembali lagi berkuasa, padahal kami sebagai rakyat justru melawan hal tersebut,”itu lah pernyataan SPA.

Aktivis Omar al-Neel mengatakan bahwa ia juga menolak pemerintahan militer. “Seluruh rakyat Sudan di jalan untuk menuntut rezim lintastoto sebelumnya turun dan tak ingin kembali ke pusaran yang sama lagi,” ungkapnya menegaskan.

Desakan dari rakyat itu kemudian bisa dibilang terbukti cukup ampuh. Hal ini dibuktikan dari Menteri Pertahanan Sudan yang sekaligus Kepala Dewan Militer, Jenderal Awad Ibn Auf, akhirnya menyatakan mengundurkan diri dari posisinya. Namun rezim angkatan bersenjata tetap saja berjalan dan posisinya digantikan Letjen Abdel Fattah al-Burhan Abdelrahman.

“Demi memastikan system pertahanan dan juga angkatan bersenjata secara keseluruhan, demi menghindari perpecahan dan juga perselisihan, mari lah kita berjalan kea rah yang baru,” ungkap Ibn Auf. Angkatan bersenjata melakukan kudetanya pada Bashir yang lebih dari 30 tahun berkuasa.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2019: Corsica Movie | Travel Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress