Ahok Cium Proyek Janggal PT. Pertamina

Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal dengan sapaan Ahok mencium adanya proyak tidak beers yang terjadi di PT. Pertamina. Dirinya curiga ada hal ganjil dalam proses inpor gas alam cair yang dilakukan pada tanggal 13 Februari tahun 2009. Gas alam cair atau liquifield natural gas telah menjadi mainan untuk oknum tertentu sehingga proses impor inipun menjadi sumber penghasilan bagi oknum tersebut. Kecurigaan ini bukan tanpa alasan tanpi Ahok menemukan serangkaian fakta mengenai hal tersebut.

Oknum PT. Pertamina Bermain Ganjil

Ahok yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama di PT. Pertamina berbicara terkait impor gas alam cair dari Mozambik. Dirinya curiga ada oknum yang mencari keuntungan dari impor tersebut. Kepada salah satu media, Ahok mengatakan ada indikasi, maka dari itu kami ingin meminta audit. Surat pun sedang disiapkan untuk Kementrian BUMN supaya adit kontrak antara ING dan Mozambik segera dilakukan. Dengan begitu oknum yang ingin mengambil keuntungan akan segera ditindak dihentikan.

Mendengar hal ini, Nicke Widyawati sebagai Direktur Utama PT. Pertamina menjelakan bahwa negosiasi mengenai impor LNG ini sudah dilakukan sejak tahun 2013. Banyak bandar slot yang sudah dibicarakan termasuk bagaimana proses impor tersebut. Selain itu, Nicke pun menginformasikan bahwa pada tanggal 8 Agustus 2014 Pertamina dengan Mozambik sudah melakukan penanda tanganan. Head of Agreement dengan volume 1 MTPA. Penanda tanganan ini berlaku hingga 20 tahun sejak tahun 2013.

Apa yang dijelaskan Nicke adalah acara persetujuan impor dan sudah diketahui oleh Anggota Komisi VII DPR RI. Ada pembicaraan lebih lanjut di tahun 2017 di mana perubahan kondisi pasar terjadi sehingga pada tahun 2018 antara Pertamina dan Mozambik telah melakukan finalisasi. Akhirnya di tahun 2019 penandatanganan SPA pun dilakukan tepatnya di tanggal 13 Februari 2019. Adapun neraca gas yang digunakan adalah harga perhitungan tahun 2018 sehingga ada kemungkinan untuk berubah kembali sesuai dengan kebutuhan dalam negeri.

Kontrak PT. Pertamina dengan Mozambil akan efektif tahun 2025 mendatang. Namun karena adanya pandemi maka dapat dipastikan bahwa permintaan akan terus naik mengakibatkan impor LNG ini akan semakin tinggi. Tidak ada yang tahu kapan penurunan terjadi. Berdasarkan tata kelola yang ada, Pertamina pun akan kembali melakukan pengajian terhadap stok yang ada, suplai serta bagaimana prediksi permintaan ke depannya.

Sebenarnya PT. Pertamina Tidak Butuh Impor

Fabby mengimbau kepada Pertamina untuk meninjau ulang perhitungan mengenai kontrak LNG dengan Mozambik. Dari peninjauan gan perhitungan itu bisa diputuskan apakah Pertamina benar benar membutuhkan impor tersebut atau tidak. Volumenya cukup besar, yaitu 1 MTPA. Mengenai deficit gas di tahun 2025 tidak ada yang tahu apakah benar benar terjadi atau tidak, karena itu tergantung pada bagaimana produksi gas nasional di lapangan.

Indonesia sudah lama mengeksplorasi gas secara bertahap. Wajar jika ada lokasi gas yang mulai mengalami penurunan produksi. Itu adalah hal yang alami karena gas cair adalah sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Proses ini disebut declining dan terjadi di beberapa daerah. Namun ada juga yang merupakan sumber gas lain yang jumlahnya besar seperti yang ada di Blok Masela dan Indonesia Deepwater Development. Dua blok tersebut sampai saat ini masih belum beroperasi tapi bisa menunjang kebutuhan gas di masa yang akan datang.

Komaidi Notonegoro sebagai Direktur Eksekutif Reforminer INstiture mengatakan bahwa PT. Pertamina perlu melakukan perhitungan ulang mengenai untung dan rugi yang akan didapatkan saat ada kontrak impor dengan LNG dan Mozambik.


Comments are Closed

© 2021: Corsica Movie | Travel Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress